22 Juni 2013

Kekuatan Akronim dan "Citarasa" Brand

(pe) nama (an) adalah kunci
brandhub.com
















FAKTA:
Kata yang terdiri dari EMPAT huruf bermakna, menjadi lebih mudah dikenali dibandingkan dengan yang tidak memiliki makna, bahkan jika dibandingkan dengan satu huruf tunggal 
Reicher (1969), Word Superiority Effect, Psikologi Kognitif

Reicher melakukan penelitiannya terhadap kata "word", "work", "walk".

Perhatikan ini.

Gibas!
(Ini sering serentak menggema di GBK saat pertandingan akbar berlangsung. Gilas abis lawan! Sikat!)
Lebay, alay, cupu, cemen, kepo.
(Ini adalah istilah-istilah yang biasa dipakai dalam pergaulan kaum muda urban).

Jupe, Depe, Loba, Jlo.
(Julia Perez, Dewi Persik, Laura Basuki, Jennifer Lopez).

Sency, Detos, Citos, Koka, Ambas, Pasfes, Jiffes
(Senayan City, Depok Town Square, Cilandak Town Square, Kota Kasablanca, Ambassador, Pasar Festival, Jakarta Film Festival).

Sensi (Selebriti dan Sensasi-Kompas TV), Kisel (Kisah Selebriti-Trans7)

Adidas, Acer, Apple, Aqua, Honda, Intel, Kodak, Nikon, Nokia, Samsung, Sony, Sevel, ...

Kudapan (Sekolah Kuliner Dapur Nusantara) unit bisnis BNI bersama Djarum Foundation; Melesat (produk dari Sisindosat), dan banyak lagi, juga program-program musik di radio Gen FM, yang seringkali menggunakan akronim.

Indra audivisual kita akrab dengan sebutan-sebutan pendek yang menarik tapi juga mudah diingat.

Di antara banyak nama brand, bisa saja itu adalah rumah makan atau tenda makan favorit Anda, kedai kopi, tempat Anda nongkrong sepulang kerja atau kongkow di akhir pekan. Atau bisa juga itu adalah camilan yang Anda makan sebagai teman nonton teve atau DVD. Atau mungkin juga softdrink kesukaan Anda. Saya tidak akan menyebutkan lebih banyak lagi brand dengan nama unik, yang terdiri dari dua suku kata atau empat huruf bermakna, yang populer, diingat dan diketahui publik, karena daftarnya pasti akan panjang. Bahkan di twitterland juga terdapat jutaan username unik yang sengaja dipakai, atau diciptakan oleh pemilik akunnya, entah itu bertujuan atau hanya sekadar iseng.

Dalam dunia branding, baik produk maupun personal, penamaan memiliki pengaruh yang sangat kuat karena fungsinya yang menentukan citra produk, citra merek (brand image) mula-mula di benak publik, sekaligus menjadi identitas organisasi maupun personal. Dan untuk tujuan jangka panjang, sebuah nama turut menentukan keberhasilan penjualan.

Penamaan untuk sebuah brand terdiri dari banyak jenis. Itu bisa menggunakan nama pendirinya,  bisa juga menggambarkan bidang usahanya, sepenuhnya diciptakan tanpa makna tertentu, atau bisa dari benda, bahasa, hewan, tumbuhan, tempat, tokoh, kombinasi atau singkatan. Yang pasti, itu harus unik, orisinil, otentik, positif, singkat, mudah ditulis dan diucapkan, dan bisa diterima oleh kelima indra (mata, telinga, hidung, lidah, kulit). Tiga yang terakhir, terutama jika itu berkaitan dengan produk makanan, minuman, atau kecantikan.

Pernah suatu kali, ketika saya melewati jalur pantura, saya lupa tepatnya di mana, tapi saya ingat betul, ada sebuah restoran di pinggir jalan yang cukup besar, dengan papan nama terbaca “Pagina”. Mengingat kebanyakan orang sunda sulit menyebut huruf “F” atau “V”, bisa dibayangkan apa artinya itu. (Hehe!) Jangan dibayangkan apa yang tersaji――tak usah dibahas. Penamaan juga sebaiknya tidak menimbulkan ambiguitas makna yang bisa dikonotasikan "negatif", atau "saru" seperti misalnya nama kedai makan "Lele Luenak." 

Nah, itu berarti perbedaan satu huruf saja dalam nama sangat berpengaruh kuat dalam menciptakan citra merek (brand image). Karena itu bisa berarti keuntungan atau kerugian besar bagi keseluruhan entitasnya (objeknya), apakah itu organisasi, produk dan jasa, personal, tempat, dll.

Jadi, lakukan riset mendalam, pelajari linguistik, semiotik, semantik, bunyi, diferensiasi dengan yang lain, apa pun yang diperlukan, jika Anda akan menciptakan sebuah nama. Karena penamaan berarti menunjukkan citarasa pembuatnya, pemiliknya dan..pengucapannya tentu saja. Dan mengapa ini penting. Apa kata Scott Milano dari Verbal Identity tentang penamaan.
http://pingmag.jp/2007/02/23/verbal-identity

Sebagai penutup, saya ingin mengucapkan selamat ulang tahun untuk kota Jakarta yang ke-486. Logonya bagus, warnanya seperti ingin mewakili spirit perubahan dan harmoni. Gambar monasnya yang menyatu dengan angka empat lebih mirip lilin yang menyala. Yaa, semoga cahayanya nggak habis-habis buat  JBJK. Jakarta Baru Jakarta Kita. (www.ahok.org)


Salam JoBas!!
Jokowi-Basuki maksudnya…






Tidak ada komentar:

Posting Komentar