Tampilkan postingan dengan label Faith Life and Perspective. Tampilkan semua postingan

07 Januari 2024

BABEL


Ketika Kebingungan Melanda Jiwa

Film ini diproduksi tahun 2006, dibintangi oleh Brad Pitt.

Ini pelajaran tentang bagaimana kita, seringnya nih, memilih berkomunikasi dengan bahasa kita sendiri, tanpa memahami bahasa jiwa orang lain. Bahkan dengan Pencipta kita saja, kita membuat bahasa monolog; cuek adalah kata yang paling tepat. Sementara bahasa cuek, sama sekali tidak Tuhan kenali. Apalagi acuh-acuh butuh. 

Cerita ini mengingatkan saya pada kisah Menara Babel di Alkitab, (Kejadian 11:1-9) di mana manusia mencoba untuk menyaingi penciptanya dan membuat sebuah menara yang tingginya sampai ke langit. Akhirnya mereka diserakkan, dan masing-masing tidak lagi bisa saling memahami kata dan bahasa. Babel sendiri artinya: membingungkan.

Kehidupan yang beranjak banyak, ternyata tidak selalu membuat manusia dewasa, bijaksana, dan menjadi lebih rendah hati. Malah sebaliknya, sombong, egois, angkuh terhadap hidup, dan berjalan dengan kebenarannya sendiri, juga mau menang sendiri. Setelah banyak kehilangan dan dihadapkan dengan banyak keruwetan, baru mencari-cari pemulihan.

Film ini berkisah tentang:
Tiga ayah.
Tiga keluarga.
Tiga negara di tiga benua.
Tiga budaya.
Tiga bahasa.
Dan satu benang merah.

Film Babel, sangat menarik untuk mereka yang menyukai banyak dialog dengan banyak pelajaran soal hidup dan hubungan. Iya, ini film drama yang dikemas sangat apik terutama karena peristiwa-peristiwa yang dinyatakan di dalamnya saling bertautan menjadi titik-titik yang tidak terduga. Baru nanti di ujung cerita, kita akan tahu maksudnya apa. Ini cuma buat mereka pemikir cerdas, ya. Yang suka film laga, gak bakal betah menonton sampai akhir.

Oke. Amerika.
Seorang suami berkebangsaan Amerika, mencoba untuk memulihkan hubungan perkawinannya dengan sang istri. Kasih mereka yang telah menjadi dingin membuat suami melakukan upaya untuk membawa istri pergi jauh dari rumah, hanya berdua, dan berharap bisa bicara dari hati ke hati dan memulihkan jiwa pernikahan mereka. Istri diajak berlibur bukan ke tempat di mana banyak angin sepoi-sepoi basa, melainkan ke daerah di padang gurun yang sarat dengan konflik bersenjata. (See? Laki-laki itu jarang sekali bisa menjadi pendengar yang baik. Tanya dong, istrimu mau diajak kemana, jangan memutuskan sendiri, berdasarkan apa yang kamu mau).

Sekarang, Maroko.
Seorang ayah di Maroko punya dua anak laki-laki yang beranjak ABG. Saking terisolasi, miskin dan jauh dari hiburan, mereka harus bekerja keras untuk menyambung hidup. Bahasa didikan si ayah kepada dua anak laki-lakinya sangat sederhana namun berbahaya: mengajari mereka yang masih bocah untuk menembak dengan tepat kambing domba gurun yang tersesat. Dua bocah itu berlatih dan akhirnya bersaing peluru siapa yang melesat paling jauh. Tanpa diduga, satu tembakan menembus kaca bus pariwisata yang melintasi daerah mereka.

Ayah Jepang.
Setelah dilakukan penyelidikan oleh polisi setempat, diketahui bahwa senjata yang digunakan bocah-bocah dusun udik di Maroko tadi, ternyata milik seorang warganegara Jepang. Penelusuran peristiwa ini bukannya tanpa darah, malah jadi mengambil nyawa.
Di sisi lain, si ayah Jepang ini sedang kewalahan memahami bahasa jiwa putri tunggalnya yang mengalami trauma kehilangan, dan sedang bergumul dengan kepahitan dan penerimaan diri. Dalam pikiran remaja belia ini, laki-laki cuma menginginkan tubuh wanita saja, dan untuk mengonfirmasi itu, ia menekan “tombol penggoda”.

Lantas, bagaimana masing-masing lakon menyelesaikan situasi rumitnya?

Semoga tahun ini, kita nggak berkutat dengan kebingungan, karena itu bikin bocor energi. 


05 Juli 2022

MINIMALIS


Healing Time ~ Taman Langit, Juli 2022



 













Situasi pandemi membawa banyak perubahan kehidupan, terutama pada hubungan (antar manusia).

Sirkuit yang begitu rumit ini memaksa kita untuk mengupayakan damai bagi diri sendiri, ke dalam dan ke luar. Empat hal ini, membantu saya mewujudkannya, terapkan hari lepas hari. Ternyata, minimalis dalam emosi, reaksi, pikiran, perkataan, dan perasaan itu bikin nyaman. Bukan seadanya atau sekadarnya, tapi secukupnya. Mirip garam di dalam masakan. Yang penting ada rasa dan membuat perbedaan yang berdampak.

Sekalipun nggak mudah, tapi dimulai saja dulu. Semuanya dimulai dari sini--diri sendiri;

Kemenangan terbesar bukan memerangi orang, tapi memerangi diri sendiri. 
Ini teruji banget di banyak situasi dan kondisi, apalagi dalam sikon “dua menjadi satu”. Saat kelar pemberkatan nikah, memerangi diri sendiri sudah dimulai.

Diam dan tersenyum dua kekuatan terbesar.
Senyuman adalah jalan permulaan untuk mengatasi begitu banyak masalah.
Diam adalah jalan untuk mencegah begitu banyak masalah; karena kebanyakan kata bisa bikin salah langkah. Kita mudah banget memanjangkan lidah ketimbang melebarkan telinga. Ya, kan? Lihat aja kehancuran yang ditimbulkan, udah banyak kan?

Saat kita (hanya) fokus pada hasilnya, kita nggak akan pernah berubah. Mata kita hanya tertuju pada ujungnya saja, nggak pernah terusik dengan banyak hal di sepanjang jalan yang bisa mengubahkan kita menjadi lebih baik. Saat kita fokus pada perubahan, kita akan dapatkan hasilnya. Nggak ada proses yang nyaman. Semua proses nggak nyaman. Cengeng berarti manja. Makanya banyak yang protes. Tapi proses berujung sukses.

Semua itu membawa kita pada kesadaran akan gambaran kehidupan; bahwa hidup seperti halnya mengayuh sepeda, untuk tetap seimbang, tetaplah mengayuh, berjalan terus ke depan.
Yok, bisa.




10 Mei 2022

MINIMALIST

 

A Perfect Place For Self Reflection ~
Tumpeng Manoreh, Kulonprogo



The pandemic situation brings many life changes, especially in relationships (between humans).

Such a complex circuit forces us to seek peace for ourselves, inward and outward. 

These four things, help me make it happen and apply it day after day. 

Because minimalism in emotions, reactions, thoughts, words, and feelings is very good and also beautiful.

The greatest victory is not winning against people.
But winning against SELF.

SILENCE and SMILE
are two powerful tools.
SMILE is the way to solve many problems, and
SILENCE is the way to avoid many problems.

If you focus on results, you will never change.
If you focus on CHANGE, you will get RESULTS.

Because...

Life is like riding a bicycle.
To keep your balance, you must KEEP MOVING.



25 November 2021

Imperfect


restore your broken places and honor your journey
(kintsugi)
image: Thomas Navarro; amazon.com

 


















Pagi itu, saya menyusuri pantai Pangandaran, berharap akan mendapatkan jepretan yang indah saat matahari perlahan menyembul dari garis batas bumi. Saya menunggu sunrise sambil mengamati kehidupan di pinggir pantai; nelayan yang siap melaut, kapal-kapal yang merapat di tepi pantai, hiruk-pikuk pasar, penjual bubur ayam, para pedagang ikan, anak-anak yang asyik bersepeda ontel, dan orang-orang yang sekadar ingin menikmati suasana pagi di pantai.

Saya menunggu kemunculan matahari seperti yang saya inginkan.

Saya membayangkan bentuknya, warnanya yang segar, muncul di ufuk timur dengan cahaya menyeruak di langit like a heaven’s door, serta air laut yang bermandikan cahaya. Hm, sempurna!

Waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh lewat. Nggak akan muncul ini mah, pikir saya. Pagi sudah beranjak jauh, dan dia- sang mentari, nggak muncul dengan bentuk dan panorama seperti yang saya mau, kecuali guratan warna kuning bercampur awan kelabu yang berpendar-pendar di langit jauh. Sesekali dirinya menyembul sedikit, sangat sedikit, memantulkan cahayanya di air laut yang mendadak mengkilat indah, tapi lantas tertutup mendung lagi. Yah, mendung. Saya kecewa. Meskipun begitu, saya tetap membidik. Sana-sini. Klik-klik-klik. Tak ingin menghabiskan banyak waktu di sana, sayapun kembali ke penginapan.

Beberapa waktu kemudian, saat saya melihat-lihat dengan seksama beberapa foto yang saya ambil, saya takjub melihat hasilnya. Tawar menawar penjual dan pembeli ikan, nelayan yang bersiap-siap bekerja, anak-anak yang bersepeda, laut yang sepi dan tenang, warna pastel kelabu pada airnya, kehidupan pantai, semua tampak hidup dan menyiratkan kehidupan. Keindahan sempurna yang saya mau memang tidak terjadi, tapi yang ini oke juga. Tiba-tiba, cakrawala pemikiran yang baru menghampiri saya. Sesuatu tentang sikap mau menerima. Mau kompromi. Sesuatu tentang ke-tidak-sempurna-an.

Berapa sering kita membuang-buang waktu untuk mengharapkan kesempurnaan? Atau selalu berusaha untuk menjadikan segalanya sempurna seperti yang kita mau, dan malah mengabaikan hal-hal lain yang justru lebih bermakna? Kecantikan wajah, keelokan tubuh, status sosial, tingkat keberhasilan, kriteria pasangan, kehidupan pribadi, hubungan, maunya “seperti yang saya mau”. Ck..ck..ck, apa nggak letih?

Fokus pada kesempurnaan hanya akan membuat kita menjadi pribadi egois yang tidak mau belajar meluaskan hati. Tentu, setiap kita memiliki standar, apalagi jika itu menyangkut seni dan citarasa dan cara bagaimana kita menyelesaikan pekerjaan. Dan kita tidak harus merusak atau menurunkan selera kita. Bukan itu poinnya. Berkompromi adalah melihat dari sisi yang lain dan bagaimana itu membawa kebaikan bagi kita, orang lain dan segala hal di sekitar kita.

Bayangkan sejenak tentang kota di mana kita tinggal. Jakarta. Bayangkan semua ketidaksempurnaan yang menyumpal di dalamnya. Dari pagi sampai pagi lagi. Dari kita keluar rumah, masuk pintu kantor, dan keluar lagi. Ada banyak hal yang terjadi dalam satu hari, dan mungkin saja itu bukan hal-hal yang ingin kita dengar dan lihat. Jika kita terus fokus di situ, pasti sudah bikin hati kita berdarah-darah. Diam, dan berefleksilah sejenak, bersyukur dalam hati malah jauh lebih menenangkan dan membawa kelegaaan, ketimbang hanyut dalam begitu banyak pikiran mengenai “harusnya begitu” atau “sebaiknya begini”.

Terkadang beberapa hal tampaknya bergerak ke arah yang salah. Atau terlihat tidak sempurna. Tak apa-apa. Bukan itu yang penting. Seringkali, di balik ketidaksempurnaan justru tersimpan banyak keindahan yang menawarkan kita pandangan baru yang menyegarkkan. Ketidaksempurnaan menyimpan pelajaran dan tujuan spesifik yang dapat kita temukan, dan itu pasti sesuatu yang berkontribusi bagi pertumbuhan pribadi dan kematangan kita. Jangan ragu untuk belajar dan melatih diri. Ketidaksempurnaan seringkali hanya  cuma soal bagaimana melihat dan menanggapi.




07 Juli 2020

Dunia Menuju Keseragaman


google.image
























Siapa yang bisa tahu selangkah ke depan?
Siapa yang sangka tahun kembar 2020 ini menyuguhkan sesuatu yang bikin banyak orang kendandapan?
Yang paling “epic”, si pandemi covid-19.

Ribuan nyawa lenyap.
Kota-kota dunia senyap.
Dunia usaha merayap.

Sejak saat itu, dan baru kali ini, keluar rumah dianggap sebagai suatu pelanggaran.
Tinggal di rumah melebihi harapan untuk menikmati liburan. Makan, goleran, wasapan, twiteran. 
Dalam sekejap semua kehidupan makhluk hidup mengalami perubahan.

Kebaikan bersisian dengan kengerian.
Tuhan seakan-akan sedang mengubah saat dan waktu, bahkan mungkin mempercepat penantian, agar setiap orang yang beriman tetap bisa tertawa tentang hari depan.

Tagar #dirumahaja, #tetapdirumah, #amandirumah, jadi membumi di mana-mana.
Kerja: meeting via zoom.
Bisnis: slow down.
Sekolah: online
Peribadatan: online
Pakai masker, cuci tangan pakai sabun, selalu siapin pembersih tangan, nggak usah kemana-mana. Familiar?

Kita semua, tua-muda, miskin-kaya, hamba-majikan, di desa-di kota, tidak terkecuali, orang Asia atau Eropa, di sana-di sini, SEMUA TINGGAL DI RUMAH.
Pada akhirnya, dunia sedang bersiap menuju keseragaman. Dan ini baru permulaan.
Akan kemana? Ke penyeragaman yang membawa banyak konflik dan perkabungan dari segala jurusan.



10 Desember 2019

Ikatan


You get me. And I get you.
I love that about us.


























Kalau kamu mencintai siang, kamu juga harus jatuh cinta pada malam.
Energimu untuk menerima kebaikan, harus sama besarnya dengan energimu dalam menghadapi kesusahan. Tidak ada hidup tanpa padang gurun. Jangan fokus pada padang gurunnya, fokuslah pada malaikatnya. Kehadiran malaikat bukti penyertaan Roh Kudus (saat kamu berada di padang gurun). 
Jangan cepat protes terhadap apa yang Tuhan sedang proses. 
~ Romo Aba MSC

Setiap pasangan dibentuk oleh pasangannya.
Setiap pasangan ditajamkan oleh pasangannya.
Seperti besi menajamkan besi. Sesama menajamkan sesamanya.

Masa-masa penyesuaian di awal-awal pernikahan, boleh dibilang gampang-gampang susah.
Terkadang diselipi percekcokan panjang dan argumen runcing, tapi bersamaan itu juga hadir
 hal-hal manis yang tidak terduga; tertawa bersama untuk hal-hal receh, selalu makan siang-malam bersama, belaian setiap saat, ungkapan cinta dengan emosi yang dalam hingga ujung hidung terlihat memerah, pelukan di pagi hari dan menjelang tidur malam, sesi bercinta yang selalu memuaskan, (ini pengalaman seks saya yang --sangat-- untuk pertamakalinya, btw.) diskusi untuk hal-hal yang menarik, trending topik di twitter, tomyam yang selalu terasa enak dan segar, roti bakar keju dan kopi hitam panas manis di pagi hari (yang selalu disediakan), cerita tentang teman-teman di masa kecil, obrolan hingga lewat tengah malam, penghargaan, pujian di lintasan hari-hari, dan spiritualitas. Ya, spiritualitas. Berdoa bersama, membawa hati kami kepada Dia yang memberkati dan meneguhkan perkawinan kami, itu membuat kami jadi makin saling mengenal, makin sering ngobrol, makin kami kuat menghadapi dan sabar terhadap karakter kami satu sama lain yang berbeda dan unik.

Bayangin aja, yang satu punya standar 100, yang satunya lagi 50.
Beda 10 poin aja bisa masalah banget apalagi setengahnya.

Kelihatannya emang rumit; karena berangkat dari nilai-nilai yang berbeda.
Tapi dari kerumitan itu jadi muncul kesepahaman, saling menerima, dan kesadaran penuh, kalau di dunia ini, sebetulnya gak ada pasangan yang bener-bener cocok satu sama lain. Itu menyesatkan! Yang paling bener, gimana kami bisa jadi orang yang tepat bagi satu sama lain. Lebih lagi, ini menguatkan keteguhan hati untuk mempercayai rencana Tuhan bagi kami. 

Semua kabar, semua nasihat, semua pepatah pernikahan yang pernah kami dengar seakan terjembreng jelas di hadapan, seperti jemuran. Namun dari semua kebingungan itu, dari kesulitan yang tidak selalu bisa dimengerti, dari ketidaksanggupan yang hampir mencuri asa, ada cinta dan keputusan yang bertanggungjawab di dalamnya. Di awal dan di akhir. Keputusan untuk bangun cinta sampai akhir, tidak cuma jatuh cinta di awal. Bahkan setelah masa-masa turbolensi mereda, selalu bisa saling menatap dan berpelukan lagi, selalu tersedia usapan di bahu, selalu terbuka pintu maaf sekali lagi, sekali lagi, sekali lagi..dan bersyukur selalu bisa menenangkan hati.

Sampai hari ini, Kasih telah, --dan akan selalu-- mengokohkan dirinya sebagai sesuatu yang tak pernah gagal.

Sebagai pasangan pasutri, yang baru membangun "rumah kami bersama", kami berdiskusi dengan hati yang lebih jujur dan terbuka, di suatu sore, ketika kami usai nonton film Marriage Story. Sejujurnya, itu menstimuli perspektif yang lebih luas. 

Kami melihat, goalnya masih di depan. Masih jauh. Yang terjadi sekarang adalah, kami sedang menyiapkan tanahnya. Belum menyemai. Tanah gembur untuk semaian subur. Tanah itu adalah hati kami yang siap dikerjakan, dan ditaburi benih. Jadi, berasa banget kalau sedang diaduk-aduk. Karena sejatinya, pasangan itu saling membajak tanah (hati); supaya hati yang keras jadi lembut. Dan saat kami membajak, kami melakukannya dengan cara dan kadar yang berbeda. Nggak apa, itu justru meningkatkan kesadaran kami untuk berbeda, tetapi tetap bisa sehati. Dan untuk menjadi sehati itu bukan perkara mudah. Semuanya penuh dinamika. Setelah tanah siap, tanaman disemai, kemudian merawatnya bersama sepanjang hayat, hingga berbuah pada saatnya, pada musimnya. 
Pohon itu, yang penting adalah daunnya tetap hijau, jangan sampai layu.

Kami sepakat untuk mempercayai prosesnya, bersabar dengan prosesnya dan bersabar juga dengan diri kami masing-masing, kepada satu sama lain. Di atas segalanya, mempercayai Tuhan sebagai penjaga jiwa kami.

Mudah? Ya, enggak juga sih.
Perkawinan kan bukan untuk setahun dua tahun..
Ini perjalanan seumur hidup, sampai maut memisahkan.

Back to film, film Marriage Story yang kami tonton bersama berakhir menggantung. Akhir ceritanya nggak tahu seperti apa, apa yang mereka putuskan. Namun di akhir cerita, ada adegan sang istri mengikat tali sepatu suaminya. Secara intuitif sepertinya menggambarkan tentang sikap penundukkan diri, agar tali sepatu suami (bisa) disimpulkan lagi.

Lebih jauh, mujizat Perkawinan di Kana mengingatkan kami, bahkan menggengam seluruh iman dan harapan kami. Di sini, dan sampai di sana, pada kekekalan. Selalu ada keajaiban kecil, besar, yang tersembunyi tetapi menyelesaikan dan memberi kemenangan. Kasih selalu menjadi pengikatnya.


Growing old together with you: YK.💓
And with Jesus Christ in us.

Saya merekomendasikan nasihat perkawinan penuh hikmat ini, yang saya sisipkan tautannya berikut:




10 Juni 2018

Progress Never Stops






















slowly, sink beautifully ~ cibitung, afternoon

.....

a good start can be ruined by an evil end. 
let's be faithful to the end.
-pm




24 Desember 2017

Good Point


pixabay.com, 1854169/
pikiran pemimpin, setajam pena

























Kepemimpinan adalah kepentingan yang paling tinggi. Bahkan, tidak ada yang bisa menggantikannya ~Peter Drucker


Negara itu ibarat rumah tangga, dan pemimpin itu, ibarat suami dalam rumah tangga. Rakyat adalah istrinya. Jadi baik suami maupun istri, perlu hikmat, kepandaian, pengertian, untuk membina rumah tangga. Terlebih lagi, jika keduanya bukan cuma punya perbedaan mendasar, tapi juga kontras. Tanpa hikmat, kepandaian dan pengertian, mustahil pengetahuan tentang perbedaan bisa dikomunikasikan, dikompromikan, bahkan berjalan bareng dalam komitmen kuat.

Kepemimpinan, dan cara-cara orang memimpin; bangsa, negara, keluarga; di pemerintahan, di perusahaan, di dalam keluarga, akan selalu menjadi pelajaran berharga dari generasi ke generasi.

Inspirasi yang saya posting di blog ini, semoga membuka ruang bagi kejujuran dan kearifan kita untuk memaknainya; terlepas dari konflik "kekal" di Timur Tengah, terlepas dari apa agama dan iman kita, terlepas dari ras dan bahasa kita. Sari pati yang saya mau bagikan adalah, tangkap dan lakukan "good point" nya, sehingga kita bisa belajar menjadi orang yang bijaksana.

---

PM Israel Benjamin Netanyahu menerima sebuah bingkisan dari pemimpin Hamas selama gencatan senjata baru-baru ini. Pemimpin organisasi teroris Palestina, Khaled Mashal, mengirim sebuah "hadiah"  (sebenarnya, ini adalah isyarat kebencian dan penghinaan terhadap Perdana Menteri), dalam sebuah kotak dengan sebuah catatan.

Setelah kotak diperiksa karena alasan keamanan, PM Netanyahu membuka kotak itu dan melihat isinya adalah kotoran sapi. Lalu ia membuka sebuah catatan, ditulis tangan dalam bahasa Arab oleh Mashal, yang mengatakan, "Untuk Anda dan orang-orang yang sombong dari Zionis".

Netanyahu, yang melek huruf dalam bahasa Arab, merenungkan catatan itu dan memutuskan cara terbaik untuk melakukan tindakan balasan. Dia dengan cepat melakukannya dengan mengirimkan paket ke pemimpin Hamas, juga berisi catatan pribadi.

Mashal dan pemimpin Hamas lainnya sangat terkejut menerima paket tersebut dan membukanya, dengan sangat hati-hati, juga mencurigai bahwa mungkin mengandung sebuah bom. Tapi mereka terkejut ketika melihat bahwa itu berisi chip komputer kecil.

"Chip ini bisa diisi ulang dengan energi matahari, memiliki memori 1,8 terabyte, dan bisa menampilkan layar hologram 3D yang mampu berfungsi dalam semua tipe ponsel, tablet atau laptop. Itu adalah salah satu teknologi paling maju di dunia, dengan label kecil, yang menyatakan barang ini adalah "Diciptakan dan diproduksi di Israel."

Catatan Netanyahu, tulisan tangan pribadi dalam bahasa Arab, Ibrani, Prancis, dan Inggris, menyatakan dengan sangat sopan: "Setiap pemimpin hanya bisa memberikan yang terbaik yang dapat dihasilkan oleh bangsanya!" (Sumber: Philip Goldstein)

Get a picture?
Merry Christmas!


10 Desember 2016

Sabda Iman

 
bukan suara jalanan melainkan goresan iman
sambil terus mengingat Yang menyempurnakan


ada rasa berbeda
ada tangis di mata,
sedih di jiwa,
dan luka di dada
semua menjadi satu dalam doa
semua tentang Indonesia.


massa dikerahkan untuk memaksa
ibadah dipakai untuk mendakwa
saat nurani terpenjara,
yang muncul logika 'pokoknya'
saat kemarahan tak dikelola,
yang muncul senjata kuasa

lalu kita mesti bagaimana?


kita domba di tengah serigala
tunjukkan taring, cakar, lari, lawan, ...itu bukan kita
ayo berdoa saja, bersatu berjaga, kata Gembala



di Alkitab ada 4 peristiwa:

Saulus
sang pembela agama
dalam perjalanan menunaikan misinya,
ia melihat cahaya,
dan mendengar suara
akhirnya dia percaya
pada Yesus yang dulu ditentangnya
apakah hari ini akan terulang peristiwanya?
mungkin saja...


Haman
sang pencari muka
dia merancang hukuman untuk Mordekhai yang penuh jasa
tapi apa daya,
hukuman berbalik menimpa dirinya
apakah hari ini akan terulang peristiwanya?
mungkin saja...


Yusuf
anak kesayangan bapa yang terlunta-lunta
akibat iri hati para seniornya
dirancang cerita untuk menyingkirkannya
tapi apa boleh dikata
rencana jahat diubah Tuhan untuk promosinya
walau melewati penjara
itu tak menghalanginya naik ke atas tahta
apakah hari ini akan terulang peristiwanya?
mungkin saja...


Daniel
pegawai kesayangan raja yang menjadi tersangka
ada saja perangkap yang dibuat pembencinya
namun mereka tak mendapatinya
hanya satu yang ada
soal ibadahnya
mereka memakai isu agama
Daniel harus masuk gua singa
tapi malaikat menjaganya
raja sendiri mengangkatnya
dan mengembalikan posisinya
ganti pembencinya yang jadi terpidana
singa berpesta daging para durjana
apakah hari ini akan terulang peristiwanya?
mungkin saja...



yang pasti saudara,
janganlah berburuk sangka.
kasihi musuhmu dan doakan mereka
jangan pernah memaksa Bapa,
untuk memuaskan emosi kita
biarlah terjadi kehendakNya
Dia punya rencana sempurna

mari balas senjata dengan kasih Bapa
damailah Indonesia.
kemuliaan bagi Tuhan di Sorga





Mawarto, Ngawi 9 Desember 2016



22 Mei 2016

Mengheningkan Cipta

Pak Harto dan Gelar Pahlawan Nasional


Saya habis selesai nonton film bertema militer berbungkus drama yang memperlihatkan beberapa adegan mengheningkan cipta; hening sambil menundukkan kepala ketika sirine berbunyi. Sirine semacam itu juga pernah sangat familiar di telinga saya yang menghabiskan masa-masa sekolah di lingkungan militer. Siapa pun yang sedang melintas di area komplek pada waktu tertentu, harus menghentikan aktivitasnya,―tidak perlu menundukkan kepala tetapi minimal hening. 

Di masa sekolah dulu dan sampai kini, setiap kali mengikuti upacara bendera, pasti ada perintah untuk mengheningkan cipta dari pemimpin upacara, dan siswa diminta untuk mengenang (berdoa) bagi jasa para pahlawan yang telah gugur di jaman penjajahan demi kemerdekaan bangsa. Tak pernah dengan pokok doa yang lain selain itu.

Sekarang saya jadi mengerti arti dari mengheningkan cipta; bukan hanya “waktu untuk diam” tetapi keheningan (menjadi cara untuk) mewakili penghormatan tertinggi. 

Nah kemarin, 2 hari lalu, kita―Indonesia―baru saja memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Apakah kita mengheningkan cipta? Sama sekali tidak. Kita membuat “keributan” “kebisingan” di mana semua orang mangapin mulutnya; banyak khotib yang latah khotbah soal PKI dan pemimpin non-muslim, banyak aktivis berkoar soal HAM dan kampung kotor, aksi demo menentang kepemimpinan, dan tentu yang paling hangat, soal Pak Harto yang akan diberi gelar Pahlawan Nasional.

Layak?

Mungkin bukan soal layak atau tidak layaknya. Toh di balik sisi gelap yang dia pernah torehkan di kibaran Merah Putih (pada suatu masa), wikipedia mencatatnya sebagai pemimpin Indonesia yang pernah membawa kejayaan pada swasembada beras. Jadi apanya? Mungkin tujuan politik yang terselip di balik wacana atau rencana itu. Karena dari sudut pandang  saya, ―dari pengamatan gagalnya kita mengheningkan cipta―semua tentang Pak Harto itu seperti:

Kotoran BAB yang muncul di kloset buka-tutup
Duri dalam daging di tubuh pemimpin selanjutnya
Kerikil dalam perjalanan di setiap kemenangan politik siapa pun pemenangnya
Bab yang selalu belum selesai dalam buku sejarah yang sedang ditulis siapa pun penulisnya
Puting beliung dalam setiap hati yang memendam kisah kelam
Dan kebencian yang tak pernah merelakan

Jadi mungkin lebih baik mengakhiri semua perbantahan tentang dirinya melalui sebuah keputusan.
Lihat saja nanti di 10 November 2016 ini.